Padang, Kabapadang.com — Hidup di wilayah rawan bencana menuntut masyarakat Sumatera Barat lebih cermat dalam melindungi aset dan menyiapkan keuangan darurat. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan ialah tabungan emas digital, yang memungkinkan masyarakat menyimpan aset tanpa harus menempatkan emas fisik di rumah.w
Baca juga:
- Bank Emas Jadi Motor Pertumbuhan Baru Pegadaian, Laba Naik Hampir 100 Persen
- Pegadaian Bekali Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja dan Bangun Kebiasaan Investasi Sejak Dini
Deputi Bisnis Pegadaian Area Padang, Heru Susanto, mengajak masyarakat mulai beradaptasi dengan memanfaatkan layanan keuangan digital, termasuk tabungan emas. Menurutnya, langkah tersebut relevan bagi masyarakat Sumbar yang menghadapi risiko bencana alam.
“Menyimpan emas saat sekarang ini tidak ribet lagi. Apalagi di daerah rawan bencana seperti di Sumbar. Daripada menyimpan emas fisik, lebih baik emas digital,” ujar Heru Susanto, Rabu (28/10/2026).
Bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan gempa, banjir, dan bencana lainnya, kesiapsiagaan tidak hanya berkaitan dengan keselamatan jiwa, tetapi juga perlindungan aset serta kesiapan menghadapi kebutuhan keuangan setelah bencana.
Dalam situasi darurat, emas fisik yang disimpan di rumah berpotensi sulit dijangkau apabila bangunan rusak atau akses menuju lokasi terhambat. Tabungan emas digital dapat menjadi salah satu alternatif penyimpanan aset karena kepemilikannya tercatat secara digital, tanpa harus menyimpan emas batangan atau perhiasan sendiri.
Heru menjelaskan, tabungan emas digital juga memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk membangun aset secara bertahap. Melalui aplikasi, nasabah dapat menabung sesuai kemampuan dan memanfaatkan saldo emas berdasarkan ketentuan produk.
Ketika membutuhkan dana, nasabah dapat menjual saldo emas atau mengakses fasilitas gadai jika memenuhi persyaratan. Transaksi melalui layanan digital juga dapat mengurangi kebutuhan untuk bepergian, selama jaringan komunikasi, listrik, dan layanan terkait tetap tersedia.
“Daripada uang habis begitu saja untuk konsumsi, lebih baik mulai menabung. Ketika ada kebutuhan mendesak, tabungan emas bisa dimanfaatkan,” katanya.
Menurut Heru, kebiasaan menabung dapat membantu masyarakat membangun aset untuk menghadapi kebutuhan keuangan yang tidak terduga. Dengan perencanaan yang baik, masyarakat juga diharapkan tidak langsung bergantung pada pinjaman online atau layanan *paylater* ketika menghadapi kesulitan keuangan.
Selain tabungan emas, Pegadaian menyediakan layanan deposito emas melalui aplikasi Tring! yang dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan dan ketentuan produk. Heru juga menjelaskan bahwa saldo tabungan emas didukung kepemilikan emas fisik berdasarkan skema dan ketentuan layanan yang berlaku.
“Menurut peraturan OJK jumlah saldo tabungan emas dengan ketersediaan emas fisik di bullion bank itu 1 : 1,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat yang ingin mencetak saldo emas digital menjadi emas fisik perlu mengikuti prosedur yang berlaku. Proses tersebut dapat membutuhkan waktu karena emas harus disiapkan dan dicetak sesuai berat serta spesifikasi yang diminta.
Meski menawarkan kemudahan, tabungan emas digital bukan pengganti dana darurat yang mudah dicairkan. Masyarakat tetap perlu menyiapkan uang tunai atau tabungan likuid untuk kebutuhan segera, terutama ketika bencana mengganggu jaringan komunikasi, pasokan listrik, maupun akses layanan keuangan.
Heru menilai edukasi mengenai produk emas perlu terus dilakukan agar masyarakat memahami manfaat, mekanisme, dan risiko setiap instrumen investasi.
Berita lainnya:
- Pegadaian Turun Tangan, Bantu Korban Galodo dan Banjir Bandang di Sumbar
- Bazar Gemilang Pegadaian Jadi Etalase UMKM Binaan di Pekanbaru
Di tengah ancaman bencana yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sumatera Barat, kemampuan melindungi aset dan menyiapkan keuangan darurat merupakan bagian penting dari adaptasi. Pemanfaatan layanan keuangan digital dapat menjadi salah satu pilihan, selama disertai perencanaan keuangan dan kesiapsiagaan bencana yang memadai. [isr]









